“Dari 10 juta penduduk Jakarta, terdapat sekitar 2 juta kepala keluarga. Dengan menghitung Rp 10 juta per kepala keluarga, totalnya Rp 20 triliun,” kata Hendrawan saat mengomentari ide Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sebagaimana dari JawaPos.com, Minggu (18/5/2025).
“Tapi ini bukan komitmen resmi, melainkan janji populis dengan simplifikasi angka,” tambahnya.
Menurut Hendrawan, retorika seperti ini memang efektif menarik simpati masyarakat, terutama mereka yang berharap pada bantuan langsung.
Namun, publik harus menyadari bahwa kebijakan fiskal tidak bisa dibuat hanya berdasarkan angka-angka yang menarik secara retorik, tanpa memperhitungkan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi secara keseluruhan.
Ia menjelaskan, bantuan langsung tunai semacam itu setara dengan menyuntikkan dana Rp 20 triliun secara langsung ke dalam perekonomian Jakarta.
“Bantuan seperti suntikan Rp 20 triliun ke dalam ekonomi dapat memicu inflasi dengan meningkatkan permintaan agregat tanpa diimbangi peningkatan pasokan,” ungkap Hendrawan.
Ia menyebut, inflasi yang tinggi justru akan merugikan masyarakat berpenghasilan rendah karena daya beli mereka semakin tergerus.
Hendrawan menyoroti bahwa APBD DKI Jakarta tahun 2025 mencapai Rp 91,34 triliun, yang sebagian besar bersumber dari pajak daerah seperti pajak bumi dan bangunan (PBB) dan pajak kendaraan bermotor.
“Pajak-pajak ini membebani warga dan bisnis. Mereka mengurangi pendapatan yang bisa dibelanjakan atau diinvestasikan oleh masyarakat,” jelasnya.
Sebagai alternatif, Hendrawan menyarankan pengurangan pajak daerah sebagai solusi yang lebih rasional.
Menurutnya, pengurangan pajak akan mengembalikan dana kepada wajib pajak masyarakat, pengusaha, atau pemilik properti yang memungkinkan mereka untuk membelanjakan, menabung, atau berinvestasi untuk menghasilkan alokasi sumber daya yang lebih optimal.
Ia memberi contoh konkret, pengurangan PBB sebesar Rp 2 triliun bisa menghemat Rp 1 juta per tahun untuk 2 juta pemilik properti atau penyewa.
Hal ini dinilai dapat meningkatkan konsumsi atau tabungan tanpa memicu inflasi.
Pendekatan seperti ini dinilai lebih adil dan efektif, terutama jika diarahkan ke wilayah administratif yang lebih tertinggal seperti Jakarta Utara yang tingkat kemiskinannya mencapai 6,44 persen
“Bayangkan masyarakat yang telah melunasi cicilan rumahnya setelah tiga dekade kerja keras, hanya untuk menemukan bahwa rumahnya bukan sepenuhnya miliknya. Pemerintah daerah menagih pajak properti setiap tahun, seolah-olah dia hanyalah penyewa abadi di tanahnya sendiri,” pungkasnya. (jpc)
Kumpulan Artikel Tips & trik gaya hidup
Tips & trik Lifehack
tips
tips agar cepat hamil
tips diet
tips diet sehat
tips menurunkan berat badan
tips cepat hamil
tips menambah berat badan
tips agar bayi cepat gemuk dalam 1 minggu
tips agar cepat melahirkan di usia kandungan 38 minggu
tips menulis kreatif
tips menabung
tips gemukin badan
tips agar melahirkan normal lancar dan tidak sakit
tips mengecilkan perut
tips sukses pubertas
tips diet cepat
tips menurunkan tekanan darah tinggi
poster tips sukses pubertas
tips diet pemula
tips hidup sehat
tips move on
tips agar cepat tidur
tips awet muda
tips menaikkan berat badan
tips belajar efektif
tips and tricks
tips mengatasi badan lemas
tips menabung harian
tips interview kerja
prediksi tips parlay 100 win
tips tinggi
tips tidur cepat
tips agar cepat haid
tips agar cepat kontraksi asli
tips kesehatan
tips menabung 1 juta per bulan
tips menghilangkan jerawat
tips belajar bahasa inggris
tips ibu hamil 9 bulan agar persalinan lancar
tips gamis untuk orang gemuk
tips agar miss v tidak kering saat berhubungan
tips kepala sering pusing
tips gemuk
tips cepat hamil setelah haid selesai
tips kurus
tips untuk memanjakan diri
tips tinggi badan
tunjukkan tips tidur
tips cepat tidur
tips agar tidak mabuk perjalanan