Kolaborasi Warga dan Tim FSRD ITB Ubah Rumput Liar jadi Produk Kreatif – Radar Bandung – Hack.AC.ID

kolaborasi-warga-dan-tim-fsrd-itb-ubah-rumput-liar-jadi-produk-kreatif-5306419-8457919-jpeg

Hack.AC.ID, BANDUNG- Ibu-ibu di Desa Pantai Bahagia, Muara Gembong, Kabupaten Bekasi berhasil memanfaatkan rumput liar bernama Wlingi Laut (Cyperus malaccensis) menjadi kerajinan tangan sebagai sumber ekonomi baru. Semua itu tidak terlepas dari pendampingan dari tim pengabdian masyarakat dari FSRD ITB.

Biasanya, warga menganyam rumput yang tumbuh di daerah payau pesisir menjadi tikar sederhana sebagai alas duduk atau alas tidur di rumah. Sudah lama Para Ibu memiliki keinginan untuk mengembangkan kerajinan ini menjadi berbagai produk fungsional. Sejak didampingi oleh tim FSRD ITB, material rumput bisa berubah menjadi beragam produk, mulai dari dompet hingga tas.

Salah seorang Ibu di Pantai Bahagia, Siti Maunah, mengatakan awal mula kegiatan menganyam ini mereka lakukan di waktu luang. Namun karena dampak dari abrasi, menganyam wlingi laut menjadi lebih diharapkan sebagai sumber pendapatan alternatif bagi warga Muara Gembong.

Rumput yang kerap disebut “dot” ini setelah diteliti memiliki potensi signifikan karena kekuatan dan elastisitasnya. Terlebih, Wlingi Laut tumbuh sangat cepat sehingga dapat dipanen beberapa tahun sekali, sehingga material ini mudah didapat dan ramah lingkungan.

“Sejak 2024, kami mendampingi sebagian ibu-ibu di Muara Gembong mengembangkan anyaman tikar. Setelah Kami sudah melakukan tahapan eksplorasi anyaman dan pengembangan produk hasil anyaman, Ibu-ibu ternyata dapat mengembangkan kreativitasnya. Setelah itu, program termutakhir adalah mengenalkan pengrajin pada kualitas hasil produk yang sudah mereka hasilkan,” kata Intan Prameswari, M.Ds., Ph.D selaku ketua tim Pengabdian Masyarakat dari FSRD ITB.

“Selain itu, kami juga mengenalkan cara memeriksa kualitas hasil kerja (quality control)—-mulai dari kerapihan anyaman, ketebalan anyaman, kekuatan sambungan, hingga kerapihan ujung lembar anyaman,” dia melanjutkan.

Tim pengabdian memberikan beragam pelatihan agar para warga makin terampil dengan teknik anyaman. Di antaranya, memberi pengetahuan mengenai cara menyambung pola dasar melalui teknik jahit menggunakan mesin jahit, dan juga penggunaan material pendukung lainnya seperti, kain pelapis atau kulit sintetis sebagai bahan pendukung untuk membuat tas atau dompet.

Tak hanya itu, pengrajin juga diajak bereksperimen untuk mengaplikasikan dekorasi tambahan menggunakan kain tradisional, bordir sederhana dengan benang sulam, hingga dekorasi menggunakan kulit kerang yang banyak dihasilkan dari hasil laut sekitar pesisir Muara Gembong.

“Setiap karya terasa istimewa karena menggabungkan sentuhan tradisi dan imajinasi baru dari para perempuan pesisir. Selain fungsional dan cantik, karya-karya ini mengingatkan kita bahwa Indonesia sangat berpotensi menghasilkan produk ramah lingkungan,” terang Intan.

Bagi mereka, perubahan ini bukan hanya soal meningkatkan pendapatan. Namun tentang rasa percaya diri. Tentang keyakinan bahwa keterampilan yang diwariskan turun-temurun bisa berkembang mengikuti zaman, tanpa kehilangan jati diri.

“Dulu kami hanya tahu cara menganyam tikar. Sekarang kami bisa bikin tas, dompet, bahkan dekorasi rumah. Rasanya bangga sekali,” ujar salah satu warga. Karya mereka kini mulai diminati oleh warga Jakarta.

Selain memperkaya keterampilan, kegiatan ini juga memberi harapan baru bagi warga yang terdampak abrasi laut. Ketika lahan pertanian semakin sempit, kerajinan wlingi laut menjadi pendapatan ekonomi alternatif bagi warga yang memanfaatkan potensi alam tanpa merusaknya.

Ke depan, para pengrajin berencana memperluas pasar lewat media sosial dan pameran lokal. Harapannya sederhana: agar produk wlingi laut dari Pantai Bahagia bisa dikenal luas, bukan hanya sebagai hasil anyaman, tapi sebagai simbol ketekunan, inovasi, dan semangat perempuan pesisir yang tak pernah berhenti belajar.

Program pengabdian masyarakat ini menyasar warga di Muara Gembong karena abrasi air laut yang semakin parah dan membuat mata pencaharian warga, yaitu tambak, terdampak negatif.

Oleh karena itu, tim melihat adanya kebutuhan akan sumber ekonomi alternatif, yang didukung dengan adanya kerajinan tikar berbahan Wlingi Laut atau rumput dot yang berpotensi dikembangkan menjadi produk fungsional bernilai ekonomi.

Program pendampingan ini diharapkan dapat berlanjut di tahun-tahun mendatang hingga peningkatan kapasitas desain, sehingga ibu-ibu Muara Gembong dapat menghasilkan produk yang lebih up-to-date secara desain untuk meningkatkan daya saing produk.

Kumpulan Artikel Tips & trik gaya hidup

Tips & trik Lifehack
tips
tips agar cepat hamil
tips diet
tips diet sehat
tips menurunkan berat badan
tips cepat hamil
tips menambah berat badan
tips agar bayi cepat gemuk dalam 1 minggu
tips agar cepat melahirkan di usia kandungan 38 minggu
tips menulis kreatif
tips menabung
tips gemukin badan
tips agar melahirkan normal lancar dan tidak sakit
tips mengecilkan perut
tips sukses pubertas
tips diet cepat
tips menurunkan tekanan darah tinggi
poster tips sukses pubertas
tips diet pemula
tips hidup sehat
tips move on
tips agar cepat tidur
tips awet muda
tips menaikkan berat badan
tips belajar efektif
tips and tricks
tips mengatasi badan lemas
tips menabung harian
tips interview kerja
prediksi tips parlay 100 win
tips tinggi
tips tidur cepat
tips agar cepat haid
tips agar cepat kontraksi asli
tips kesehatan
tips menabung 1 juta per bulan
tips menghilangkan jerawat
tips belajar bahasa inggris
tips ibu hamil 9 bulan agar persalinan lancar
tips gamis untuk orang gemuk
tips agar miss v tidak kering saat berhubungan
tips kepala sering pusing
tips gemuk
tips cepat hamil setelah haid selesai
tips kurus
tips untuk memanjakan diri
tips tinggi badan
tunjukkan tips tidur
tips cepat tidur
tips agar tidak mabuk perjalanan

You May Also Like

About the Author: Hack Adm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *