Bahasa, Mata, Cara, Kekerabatan dan Agama

karera-1-5981190-9924113-jpg

Sejarah Suku Karera

Orang Karera adalah kelompok sosial yang berdiam di bagian timur Kabupaten Sumba Timur di pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Mereka berdiam di daerah lereng bukit yang terbilang gersang, yang ditumbuhi alang-alang. Masyarakat lain yang dekat atau bertetangga dengan orang Karera ialah orang Karera Jangga dan orang Katara. Bahasa yang dipakai ialah dialek Manggarikuna, salah satu dialek bahasa Sumba. Dialek-dialek bahasa Sumba lainnya adalah dialek Manggikua, Mangakina, Manggena, dan Mapeni.


Perkampungan orang Karera biasanya memiliki lapangan terbuka untuk tempat upacara, sebuah rumah adat yang didepannya terdapat beberapa batu megalit dan disekitarnya berdiri rumah-rumah orang kebanyakan. Rumah-rumah itu berupa rumah panggung yang tingginya sekitar satu meter dari permukaan tanah. Rumah adat tadi lebih besar dari permukaan tanah. Rumah adat tadi lebih besar dari rumah penduduk biasa. Atapnya melebar dibagian bawah dan di atasnya berbentuk kerucut. Bahan atapnya ialah anyaman ilalang.

Baca Juga : Sejarah Suku Lauje


Mata pencaharian pokok orang Karera adalah bercocok tanam di ladang dengan tanaman utama padi dan jagung, yang juga sebagai makanan pokoknya. Perladangan ini dikerjakan dengan sistem tebang bakar (slash and burn). Sisa-sisa pohon yang tak terbakar digunakan menjadi pagar, sebagai batas dengan ladang pemilik lain. Selain itu, mereka berburu babi hutan dan ada yang beternak babi. Mereka juga memelihara kerbau dan kuda, namun hewan ini tidak secara langsung mempunyai arti ekonomis. Kerbau dan kuda bisa berfungsi menjadi mas kawin, kerbau sendiri menjadi hewan korban dan kuda sebagai sarana transportasi. Kerbau digembalakan di padang rumput dan dikandangkan pada malam hari, sedangkan kuda ada yang dikandangkan dan ada yang dibiarkan berkeliaran di padang rumput.


Dalam kekerabatan mereka tergabung dalam klen patrilineal (merapu). Setiap klen itu dipimpin oleh seorang kepala adat yang disebut Kabisu. Ia dipilih secara turun-temurun di samping harus memenuhi persyaratan seperti bersifat jujur dan disegani oleh anggota kelompoknya. Kepala adat ini bertugas menangani hal-hal yang berkaitan dengan adat, menyelesaikan sengketa adat perkawinan, dan lain-lain.


Masyarakat ini mengenal tiga lapisan sosial yaitu lapisan bangsawan (umbu), lapisan merdeka (kabinu); merupakan orang kebanyakan yang dapat memenuhi kebutuhan sendiri, dan Lapisan hamba (ata) adalah orang-orang yang berbakti kepada golongan bangsawan tadi. Segala kebutuhannya ditanggung oleh bangsawan itu. Golongan hamba ini berasal dari orang-orang yang tidak mampu membayar hutang, kalah perang, atau orang yang dijatuhi hukuman untuk menjadi hamba.


Orang Karera percaya kepada roh-roh nenek moyang (merapu) yang berdiam di alam roh yang disebutnya Tanatara. Di sana, roh-roh itu hidup seperti manusia biasa sebagaimana terjadi di dunia. Roh itu mempunyai kekuatan untuk membantu atau sebaliknya mengganggu manusia yang masih hidup. Itulah sebabnya terhadap roh-roh nenek moyang itu harus diadakan upacara, agar roh itu membantu menyuburkan tanaman, memberi hasil yang baik, atau mendatangkan kesejahteraan. Sebaliknya roh itu akan menurunkan bencana bagi manusia kalau tidak diadakan upacara. Roh yang tidak sampai ke alam roh disebut hantu (sarangi).


Hantu inilah yang selalu berbuat jahat terhadap manusia, misalnya membuat sakit. Agar hantu ini tidak mengganggu, maka dibuatkan patung kayu yang bentuknya mirip manusia dan di depannya diberi sajian berupa bahan makanan dan buah-buahan. Pemujaan semacam ini dilakukan setahun sekali setelah usai panen dengan memotong hewan kerbau atau babi.


Upacara lain yang mengadakan korban kerbau adalah upacara kematian. Upacara tampak besar-besaran kalau yang meninggal itu dari kalangan kaum bangsawan tadi.

Baca Juga : Sejarah Suku Donggo


Bahasa Suku Karera

Bahasa yang dipakai ialah dialek Manggarikuna, salah satu dialek bahasa Sumba. Dialek-dialek bahasa Sumba lainnya ialah dialek Manggikua, Mangakina, Manggena dan Mapeni.


Mata Pencaharian Suku Karera

Mata pencaharian pokok orang Karera ialah bercocok tanam di ladang dengan tanaman utama padi dan jagung yang juga sebagian makanan pokoknya. Perladangan ini dikerjakan dengan sistem tebang bakar “slash and burn”. Sisa-sisa pohon yang tak terbakar digunakan menjadi pagar, sebagai batas dengan ladang pemilik lain.


Selain itu mereka berburu babi hutan dan ada yang beternak babi. Mereka juga memelihara kerbau dan kuda, namun hewan ini tidak secara langsung mempunyai arti ekonomis. Kerbau dan kuda bisa berfungsi menjadi mas kawin, kerbau sendiri menjadi hewan korban dan kuda sebagai sarana transportasi. Kerbau digembalakan di padang rumput dan dikandangkan pada malam hari, sedangkan kuda ada yang dikandangkan dan ada yang dibiarkan berkeliaran di padang rumput.


Cara Hidup Suku Karera

Suku Karera bertempat tinggal di kawasan lereng yang gersang, kering, dan banyak gulma, seperti ilalang. Karena mereka tinggal di daerah yang gersang, maka pencaharian utama warga Suku Karera adalah beternak. Suku Karera biasanya membagi tanah mereka dengan pembatas menggunakan pagar kayu atau batu, hal ini berguna agar hewan ternak mereka tidak masuk ke lahan tetangganya. Suku Karera biasanya memelihara kerbau dan kuda, kedua hewan ini juga terkadang diperuntukkan sebagai mahar pernikahan.


Suku Karera tergabung dalam sistem klan yang cenderung patrilineal, atau mengutamakan garis keturunan ayah. Klan tersebut dipimpin oleh seorang kepala klan yang disebut kabisu. Selain sistem klan, Suku Karera juga mengenal sistem kelas sosial yang terdiri dari 3 lapisan, yakni; bangsawan (disebut umbu), rakyat biasa (disebut kabihu), dan hamba-sahaya (disebut ata).

Baca Juga : Sejarah Suku Simeulue


Suku Karera masih mempercayai ajaran animisme, mereka menganggap nenek moyang mereka (disebut Merapu) sedang berdiam diri di sebuah tempat yang disebut Tanatara. Bagi Suku Karera, nenek moyang mereka hidup selayaknya di dunia di alam Tanatara. Menurut kepercayaan mereka, Merapu adalah roh yang membawa kebaikan yang melawan roh kejahatan yang bernama Sarangi.


Perkampungan Suku Karera biasaya terletak di sebuah lapangan atau tanah terbuka, hal ini berguna untuk tempat upacara. Sebuah rumah adat yang di depannya terdapat beberapa batu megalitik, dan disekitarnya berdiri rumah-rumah orang kebanyakan. Rumah-rumah itu berupa rumah panggung yang tingginya sekitar satu meter dari permukaan tanah.Rumah adat tadi lebih besar dari rumah penduduk biasa. Atapnya melebar di bagian bawah dan di atasnya berbentuk kerucut. Bahan atapnya ialah anyaman ilalang


Sistem Kekerabatan Suku Karera

Dalam kekerabatan mereka tergabung dalam klen patrilineal “merapu”, setiap klen itu dipimpin oleh seorang kepala adat yang disebut Kabisu. Ia dipilih secara turun-temurun di samping harus memenuhi persyaratan seperti bersifat jujur dan disegani oleh anggota kelompoknya. Kepala adat ini bertugas menangani hal-hal yang berkaitan dengan adat, menyelesaikan sengketa adat perkawinan dan lain-lain.


Masyarakat ini mengenal tiga lapisan sosial yaitu lapisan bangsawan “umbu”, lapisan merdeka “kabinu” merupakan orang kebanyakan yang dapat memenuhi kebutuhan sendiri, dan lapisan hamba “ata” ialah orang-orang yang berbakti kepada golongan bangsawan tadi. Segala kebutuhannya ditanggung oleh bangsawan itu, golongan hamba ini berasal dari orang-orang yang tidak mampu membayar hutang, kalah perang atau orang yang dijatuhi hukuman untuk menjadi hamba.


Agama dan Kepercayaan Suku Karera

Orang Karera percaya kepada roh-roh nenek moyang “merapu” yang berdiam di alam roh yang disebutnya Tanatara. Di sana roh-roh itu hidup seperti manusia biasa sebagaimana terjadi di dunia. Roh itu mempunyai kekuatan untuk membantu atau sebaliknya mengganggu manusia yang masih hidup. Itulah sebabnya terhadap roh-roh nenek moyang itu harus diadakan upacara agar roh itu membantu menyuburkan tanaman, memberi hasil yang baik atau mendatangkan kesejahteraan.

Baca Juga : Senjata Tradisional – Keris,Pengertian, Mandau, Golok, Aceh, Jawa, Madura


Sebaliknya roah itu akan menurunkan bencana bagi manusia kalau tidak diadakan upacara. Roh yang tidak sampai ke alam roh disebut hantu “sarangi”. Hantu inilah yang selalu berbuat jahat terhadap manusia, misalnya membuat sakit. Agar hantu ini tidak mengganggu, maka dibuatkan patung kayu yang bentuknya mirip manusia dan di depannya diberi sajian berupa bahan makanan dan buah-buahan. Pemujaan semacam ini dilakukan setahun sekali setelah usia panen dengan memotong hewan kerbau atau babi. Upacara lain yang mengadakan korban kerbau ialah upacara kematian, upacara tampak besar-besaran kalau yang meninggal itu dari kalangan kaum bangsawan tadi.

Mungkin Dibawah Ini yang Kamu Cari

website Pelajaran SD SMP SMA dan Kuliah Terlengkap

Materi pelajaran terlengkap

mata pelajaran
jadwal mata pelajaran mata pelajaran sma jurusan ipa mata pelajaran sd mata pelajaran dalam bahasa jepang mata pelajaran kurikulum merdeka mata pelajaran dalam bahasa inggris mata pelajaran sma jurusan ips mata pelajaran sma
bahasa inggris mata pelajaran
bu ani memberikan tes ujian akhir mata pelajaran ipa
tujuan pemberian mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan di sekolah adalah
dalam struktur kurikulum mata pelajaran mulok bersifat opsional. artinya mata pelajaran smp mata pelajaran ipa mata pelajaran bahasa indonesia mata pelajaran ips mata pelajaran bahasa inggris mata pelajaran sd kelas 1
data mengenai mata pelajaran favorit dikumpulkan melalui cara
soal semua mata pelajaran sd kelas 1 semester 2 mata pelajaran smk mata pelajaran kelas 1 sd mata pelajaran matematika mata pelajaran ujian sekolah sd 2022
bahasa arab mata pelajaran mata pelajaran jurusan ips mata pelajaran sd kelas 1 2021 mata pelajaran sbdp mata pelajaran kuliah mata pelajaran pkn
bahasa inggrisnya mata pelajaran mata pelajaran sma jurusan ipa kelas 10 mata pelajaran untuk span-ptkin mata pelajaran ppkn mata pelajaran ips sma mata pelajaran tik
nama nama mata pelajaran dalam bahasa inggris mata pelajaran pkn sd mata pelajaran mts mata pelajaran pjok
nama nama mata pelajaran dalam bahasa arab mata pelajaran bahasa inggrisnya mata pelajaran bahasa arab
seorang pengajar mata pelajaran akuntansi di sekolah berprofesi sebagai
nama mata pelajaran dalam bahasa jepang
hubungan bidang studi pendidikan kewarganegaraan dengan mata pelajaran lainnya
dalam struktur kurikulum mata pelajaran mulok bersifat opsional artinya mata pelajaran dalam bahasa arab
tujuan mata pelajaran seni rupa adalah agar siswa

You May Also Like

About the Author: Hack Adm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *