Hack.AC.ID – Bandung selama ini dikenal sebagai kota kreatif dan kota pendidikan. Namun di balik pesonanya, tersembunyi sebuah ancaman geologis yang nyaris tak terdengar di ruang publik: Sesar Lembang.
Patahan aktif sepanjang ±29 km di utara kota ini menyimpan potensi gempa besar hingga 7 Skala Richter, ancaman yang berpotensi melumpuhkan infrastruktur dan kehidupan sosial-ekonomi wilayah Cekungan Bandung.
Menjawab kebutuhan akan ruang diskusi dan edukasi publik, hari ini diselenggarakan forum Sesar Lembang Circle, sebuah inisiatif kolaboratif yang mempertemukan narasi ilmiah, budaya lokal, serta aksi nyata mitigasi bencana.
Bertempat di 1933 Dapur & Kopi, Jl. Sulanjana No.17, Tamansari, Bandung, acara ini berlangsung pukul 19.30 WIB – 21.30 WIB, terbuka bagi alumni ITB lintas angkatan, komunitas, akademisi, media lokal, hingga warga kota.
Mengusung format talkshow interaktif dan live podcast yang hangat namun sarat makna, Sesar Lembang Circle menjadi forum awal untuk menyatukan berbagai elemen pentahelix: akademisi, masyarakat, dunia usaha, pemerintah, dan media.
Tujuannya tidak hanya menyampaikan data geologis, tetapi juga membangun kesadaran publik yang menyentuh dimensi sosial, budaya, dan tata ruang kota secara lebih komprehensif.
Forum ini digagas oleh Agung Aswamedha, yang akrab disapa Atep, Direktur R&D Sangkuriang Internasional sekaligus alumni Fisika ITB 2002 dan Calon Ketua Ikatan Alumni ITB Nomor Urut 01.
Ia turut memoderasi langsung diskusi lintas perspektif bersama para pembicara: Seterhen Akbar (Saska) – EL ’03, Co-founder Labtek Indie
, Adi Panuntun – DKV ’99, pegiat narasi visual dan ruang kreatifZahra Khairunnisa – PL ’16, Peneliti Kota dan Wilayah, Atep (Agung Aswamedha) – Fisika ’02, Calon Ketua Ikatan Alumni ITB Nomor Urut 01
Diskusi tidak berhenti pada skenario terburuk bencana. Dalam sesi khusus, para pembicara mengeksplorasi pendekatan berbasis komunitas seperti kearifan lokal Smong di Aceh sebagai inspirasi membangun budaya kesiapsiagaan yang membumi dan partisipatif.
Seterhen Akbar mengingatkan bahwa membangun kultur sadar risiko sejak dini jauh lebih penting ketimbang sekadar simulasi tahunan.
“Mitigasi bencana bukan cuma soal simulasi dan sirene. Ini soal membangun kultur sadar risiko sejak kecil, sejak sekarang. Kalau kita bisa buat Bandung jadi kota musik, kenapa tidak bisa jadi kota sadar bencana?” ujarnya.
Senada dengan itu, Adi Panuntun menekankan pentingnya kekuatan narasi populer dalam membentuk kesadaran kolektif. Ia berpendapat bahwa kampanye mitigasi semestinya bisa dikemas sekuat narasi komersial.
“Bayangkan kalau narasi kebencanaan masuk ke musik, seni jalanan, dan pop culture. Edukasi seharusnya tidak menakutkan, tapi justru menggerakkan,” ungkapnya.
Zahra Khairunnisa, peneliti muda di bidang perencanaan kota, menyoroti pentingnya integrasi antara data ilmiah dan pengambilan kebijakan. Ia menyatakan bahwa tantangannya bukan hanya pada patahan geologi, tapi juga pada patahan antara ilmu pengetahuan dan kebijakan publik.
Menurutnya, urban planning harus berani mengakomodasi skenario terburuk, bukan sekadar mengejar proyek jangka pendek.
Sementara itu, Atep menekankan urgensi kolaborasi semua pihak dalam membentuk ekosistem kesiapsiagaan yang menyeluruh. Ia menyampaikan bahwa Sesar Lembang bukanlah dongeng ilmiah.
“Ini nyata dan bisa terjadi kapan saja. Tapi alih-alih menakuti, kita harus mengajak semua pihak membentuk ekosistem baru: edukatif, kolaboratif, dan partisipatif,” tegasnya.
Ia pun optimistis Bandung bisa menjadi contoh nasional dalam kesiapsiagaan berbasis komunitas.
Saat ini, Kota Bandung tengah tumbuh pesat. Namun pertumbuhan tanpa mitigasi berpotensi menghadirkan risiko besar. Forum Sesar Lembang Circle hadir sebagai ruang awal untuk membangun Bandung yang resilien, bukan hanya lewat regulasi, tapi melalui keterlibatan warganya sendiri.
Dengan kolaborasi lintas jurusan dan angkatan alumni ITB, komunitas kreatif, dan para peneliti muda, acara ini diharapkan memicu inisiatif yang lebih luas, mulai dari edukasi kebencanaan berbasis komunitas, pelibatan warga dalam simulasi, hingga advokasi kebijakan tata ruang berbasis risiko.
“Bandung bukan hanya soal kreativitas, tapi juga soal ketahanan. Ini saatnya kita bicara, bergerak, dan saling menjaga,” ujarnya. (pra)
Kumpulan Artikel Tips & trik gaya hidup
Tips & trik Lifehack
tips
tips agar cepat hamil
tips diet
tips diet sehat
tips menurunkan berat badan
tips cepat hamil
tips menambah berat badan
tips agar bayi cepat gemuk dalam 1 minggu
tips agar cepat melahirkan di usia kandungan 38 minggu
tips menulis kreatif
tips menabung
tips gemukin badan
tips agar melahirkan normal lancar dan tidak sakit
tips mengecilkan perut
tips sukses pubertas
tips diet cepat
tips menurunkan tekanan darah tinggi
poster tips sukses pubertas
tips diet pemula
tips hidup sehat
tips move on
tips agar cepat tidur
tips awet muda
tips menaikkan berat badan
tips belajar efektif
tips and tricks
tips mengatasi badan lemas
tips menabung harian
tips interview kerja
prediksi tips parlay 100 win
tips tinggi
tips tidur cepat
tips agar cepat haid
tips agar cepat kontraksi asli
tips kesehatan
tips menabung 1 juta per bulan
tips menghilangkan jerawat
tips belajar bahasa inggris
tips ibu hamil 9 bulan agar persalinan lancar
tips gamis untuk orang gemuk
tips agar miss v tidak kering saat berhubungan
tips kepala sering pusing
tips gemuk
tips cepat hamil setelah haid selesai
tips kurus
tips untuk memanjakan diri
tips tinggi badan
tunjukkan tips tidur
tips cepat tidur
tips agar tidak mabuk perjalanan