Hack.AC.ID, BANDUNG – Lembaga Sensor Film (LSF) Republik Indonesia menyoroti rendahnya peran dan pengawasan orangtua terhadap anak dalam mengakses tontonan di ruang digital.
Ditengah pesatnya perkembangan teknologi, tontonan melalui gawai pribadi tanpa filter maupun pendampingan orangtua bisa berdampak negatif baik dari sisi psikologis maupun mental anak.
Hal itu diungkapkan Wakil Ketua LSF RI Noorca M. Massardi pada kegiatan Literasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri di Kota Bandung, Selasa (25/11/2025).
Menurutnya, literasi sensor mandiri menjadi kebutuhan mendesak di tengah derasnya arus teknologi yang membuat tontonan semakin mudah diakses kapan pun dan di manapun.
“Dari hasil penelitian LSF menunjukkan lebih dari separuh anak Indonesia menonton konten dari gawai tanpa pendampingan. Mereka menonton sendiri dari kamar. Ini yang berbahaya,” kata Noorca.
Menurtnya, LSF telah berkolaborasi dengan Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) untuk memastikan penonton di bioskop sesuai klasifikasi usia. Namun, ia menilai pengawasan tontonan di rumah harus menjadi tanggung jawab keluarga.
“Upaya literasi publik terus dilakukan, mulai dari kegiatan sosialisasi hingga nonton bareng (nobar) di berbagai daerah untuk memperkuat budaya sensor mandiri dan mendorong apresiasi terhadap film nasional,” jelasnya.
Selain itu, ia mengungkapkan proses sensor diberlakukan ketat, dan produser diberikan kesempatan revisi maksimal tiga kali jika terdapat konten yang perlu disesuaikan.
“Kalau revisi sampai tiga kali masih belum sesuai, tentu tidak dapat diterima. Tapi syukurlah, selama ini satu kali revisi biasanya sudah cukup,” ucapnya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Subkomisi Publikasi LSF RI, Nusantara Husnul Khatim Mulkan menyampaikan, bahwa aturan penyensoran konten digital saat ini masih memiliki celah hukum karena UU Perfilman dibuat sebelum era platform streaming berkembang pesat.
Undang-undang perfilman dibuat saat teknologi belum secanggih sekarang. Tidak terbayangkan bahwa setiap orang memegang gawai dengan akses tontonan yang tidak terpantau.
Sementara itu, Produser film sekaligus CEO UWAIS Pictures, Ryan Santoso, mengapresiasi kinerja LSF yang dinilai konsisten menjaga standar tontonan bagi publik.
“Kalau platform seperti YouTube Kids hanya menjaga sebagian anak, LSF menjaga seluruh anak Indonesia. Itu tugas besar. Mereka melakukan pekerjaan yang sangat baik,” katanya.
Menurutnya, selama proses produksi film yang melibatkan LSF, tidak ada keberatan berarti yang ditemui.
“Tidak ada pornografi sama sekali. Hanya ada adegan sadis yang masih dalam batas wajar dan sesuai untuk 17 tahun ke atas. Tidak ada penyesuaian tambahan yang diminta,” pungkasnya.(arh)
Kumpulan Artikel Tips & trik gaya hidup
Tips & trik Lifehack
tips
tips agar cepat hamil
tips diet
tips diet sehat
tips menurunkan berat badan
tips cepat hamil
tips menambah berat badan
tips agar bayi cepat gemuk dalam 1 minggu
tips agar cepat melahirkan di usia kandungan 38 minggu
tips menulis kreatif
tips menabung
tips gemukin badan
tips agar melahirkan normal lancar dan tidak sakit
tips mengecilkan perut
tips sukses pubertas
tips diet cepat
tips menurunkan tekanan darah tinggi
poster tips sukses pubertas
tips diet pemula
tips hidup sehat
tips move on
tips agar cepat tidur
tips awet muda
tips menaikkan berat badan
tips belajar efektif
tips and tricks
tips mengatasi badan lemas
tips menabung harian
tips interview kerja
prediksi tips parlay 100 win
tips tinggi
tips tidur cepat
tips agar cepat haid
tips agar cepat kontraksi asli
tips kesehatan
tips menabung 1 juta per bulan
tips menghilangkan jerawat
tips belajar bahasa inggris
tips ibu hamil 9 bulan agar persalinan lancar
tips gamis untuk orang gemuk
tips agar miss v tidak kering saat berhubungan
tips kepala sering pusing
tips gemuk
tips cepat hamil setelah haid selesai
tips kurus
tips untuk memanjakan diri
tips tinggi badan
tunjukkan tips tidur
tips cepat tidur
tips agar tidak mabuk perjalanan