RADARBANDUNG.ID, KOTA BANDUNG – Pakar Hukum Universitas Airlangga Zendy Wulan Ayu Widhi Prameswari melontarkan kritik pedas kepada program Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi yang mengirim anak nakal ke barak militer.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat berbincang dengan siswi SMA di barak militer. Foto : Dok. Youtube Kang Dedi Mulyadi Channel. Sementara itu, foto atas, Pakar Hukum Universitas Airlangga Zendy Wulan Ayu Widhi Prameswari. Foto : Dokumentasi Humas Unair
Selain berisiko melanggar konvensi hak anak (KHA), program Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi yang memberi label nakal atau bermasalah pada anak-anak yang dikirim ke barak militer itu diskriminatif.
program Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi perlu mengkaji ulang agar tidak menimbulkan stigma negatif.
“Harus jelas kriteria yang digunakan. Kalau tidak, ini bisa menimbulkan diskriminasi yang melanggar hak anak untuk diperlakukan secara adil,” tutur Zendy yang aktif mengajar di Fakultas Hukum Unair, Minggu (18/5/2025).
Melansir dari Radar Bogor (Jawa Pos Group), Gubernur Dedi Mulyadi menyampaikan program yang digagasnya memiliki tujuan baik.
Yakni menyelamatkan remaja yang dianggap tak bisa lagi dinasihati bahkan mengancam orang tua.
“Untuk itu kebijakan barak militer bagi anak-anak nakal sesungguhnya adalah kebijakan untuk mengembalikan jati diri anak pada pola disiplin agar memiliki visi dan masa depan yang baik,” tutur Dedi dalam Instagram @dedimulyadi71.
Adapun kriteria anak-anak yang dianggap nakal atau bermasalah yang dikirim KDM ke barak militer, di antaranya mereka yang sering terlibat tawuran, anak yang mengonsumsi alkohol, anak yang bermain game sampai lupa waktu.
Selain itu, anak yang melawan dan bersikap kasar kepada orang tua, anak yang kerap menciptakan kekacauan di sekolah dan mengganggu proses belajar, dan anak yang gemar membolos tanpa alasan jelas.
Sebagai alternatif, Zendy menyarankan pendekatan berbasis hak anak dengan fokus pada pencegahan dan rehabilitasi, serta pentingnya mengenali faktor penyebab dan pelindung dalam perilaku anak.
“Pemerintah seharusnya memberi bimbingan, pendampingan psikososial, melibatkan anak dalam pengambilan keputusan, serta memperlakukan mereka sebagai subjek hak, bukan objek hukuman,” seru Zendy.
Dia menyoroti pentingnya peran konselor dan psikolog anak dalam program ini. Penetapan pihak yang berwenang dalam mengawasi pelaksanaan program barak militer juga menjadi hal yang krusial.
“Pendidikan karakter tidak bisa disederhanakan sebagai hukuman fisik. Anak-anak harus diberdayakan dengan pendekatan yang memahami latar belakang mereka dan tidak mengorbankan hak-haknya,” tukas Zendy. (jpc)
Kumpulan Artikel Tips & trik gaya hidup
Tips & trik Lifehack
tips
tips agar cepat hamil
tips diet
tips diet sehat
tips menurunkan berat badan
tips cepat hamil
tips menambah berat badan
tips agar bayi cepat gemuk dalam 1 minggu
tips agar cepat melahirkan di usia kandungan 38 minggu
tips menulis kreatif
tips menabung
tips gemukin badan
tips agar melahirkan normal lancar dan tidak sakit
tips mengecilkan perut
tips sukses pubertas
tips diet cepat
tips menurunkan tekanan darah tinggi
poster tips sukses pubertas
tips diet pemula
tips hidup sehat
tips move on
tips agar cepat tidur
tips awet muda
tips menaikkan berat badan
tips belajar efektif
tips and tricks
tips mengatasi badan lemas
tips menabung harian
tips interview kerja
prediksi tips parlay 100 win
tips tinggi
tips tidur cepat
tips agar cepat haid
tips agar cepat kontraksi asli
tips kesehatan
tips menabung 1 juta per bulan
tips menghilangkan jerawat
tips belajar bahasa inggris
tips ibu hamil 9 bulan agar persalinan lancar
tips gamis untuk orang gemuk
tips agar miss v tidak kering saat berhubungan
tips kepala sering pusing
tips gemuk
tips cepat hamil setelah haid selesai
tips kurus
tips untuk memanjakan diri
tips tinggi badan
tunjukkan tips tidur
tips cepat tidur
tips agar tidak mabuk perjalanan