
gambar teori konsentris?

Teori Konsentris dikembangkan oleh Ernest W. Burgess (1925) yang mengatakan bahwa “suatu kota akan terdiri atas zona-zona yang konsentris dan masing-masing zona mencerminkan tipe penggunaan lahan yang berbeda”. Zona-zona tersebut dijelaskan sebagai berikut :
- Zona pusat kegiatan (Central Business Distric (CBD)) merupakan daerah pusat kota dan pusat kegiatan ekonomi sosial, budaya dan politik. Rute-rute transportasi dari segala penjuru memusat ke zona ini sehingga memiliki aksesibilitas yang tinggi.
- Zona peralihan (transision zone) merupakan kawasan peralihan yang didalamnya terdapat industri, perkantoran dan pertokoan. Zona ini juga merupakan daerah yang mengalami penurunan kualitas lingkungan permukiman yang terdapat kawasan kumuh (slum area) dan ghettoes (penampungan para pendatang baru da penghuni sementara). Oleh karena itu, di zona ini banyak terdapat kriminalitas dan kemiskinan.
- Zona perumahan para pekerja (zone of working men’s home). Zona ini paling banyak ditempati oleh perumahan pekerja-pekerja pabrik dan industri.
- Zona perkumiman yang lebih baik (zone of better residences). Zona ini dihuni oleh penduduk yang berstatus ekonomi menengah sampai tinggi. Kondisi ekonomi umumnya stabil sehingga lingkungan permukimannya menunjukkan derajat keteraturan yang cukup tinggi.
- Zona para penglaju (zone of commuters) merupakan zona di daerah pinggiran kota mulai bermunculan perkembangan perkumiman baru yang berkualitas tinggi. Mereka tinggal di zona itu dan bekerja di kota, setaip hari mereka pulang pergi ke kota.
Kota yang mendekati model konsentrik adalah Kota Chicago, Kalkuta, Adelaide, dan Amtersdam.