RADARBANDUNG.ID, SOREANG, — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung melakukan penyesuaian tunjangan kinerja (tukin) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai respons atas tekanan keuangan daerah. Kebijakan ini diumumkan langsung oleh Bupati Bandung, Dadang Supriatna, dalam rapat koordinasi bulanan di Gedung Moh. Toha, Kompleks Pemkab Bandung, Selasa (21/10).
Dadang menjelaskan, penyesuaian tukin dilakukan karena menurunnya dukungan fiskal dari pemerintah pusat, terutama setelah Dana Alokasi Khusus (DAK) tidak tercantum dalam rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2025.
“Dari target Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp2,2 triliun, hingga 17 Oktober baru terkumpul Rp1,4 triliun. Masih ada sekitar Rp800 miliar yang harus kita kejar,” ujar Dadang.
Ia menegaskan, kebijakan tersebut bukan merupakan pemotongan, melainkan bentuk penyesuaian sementara selama empat bulan ke depan, menyesuaikan kemampuan kas daerah.
“Kabupaten Bandung memiliki tukin tertinggi di wilayah Bandung Raya. Namun dalam situasi fiskal seperti sekarang, kita harus realistis,” katanya.
Bupati juga menekankan, tukin ASN di Kabupaten Bandung bersumber dari PAD, bukan dari dana transfer pusat. Oleh karena itu, fluktuasi pendapatan daerah berdampak langsung terhadap kemampuan pemerintah dalam membayarkan tukin.
“Kalau pendapatan belum tercapai, otomatis kemampuan bayar juga menurun. Ini prinsip dasar pengelolaan fiskal yang sehat,” tegasnya.
Kebijakan ini, lanjutnya, telah dibahas bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) dalam lima kali pertemuan. Ia memastikan, keputusan tersebut tidak akan mengganggu pelayanan publik.
Dadang juga mengingatkan bahwa tekanan fiskal kemungkinan masih akan berlanjut pada tahun 2026, seiring dengan proyeksi penurunan Transfer ke Daerah (TKD) sebesar Rp945 miliar. Ia meminta setiap perangkat daerah segera menggali potensi PAD baru dan meningkatkan kemandirian fiskal.
“Kalau tidak ada inovasi, daerah bisa tertekan. Saya minta semua kepala dinas dan camat segera mencari sumber pendapatan baru,” tegasnya.
Menanggapi isu ini, Pengamat Politik dan Pemerintahan dari Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani), Arlan Siddha, menyayangkan munculnya miskomunikasi antara pimpinan daerah dan ASN.
“Berita pemotongan tukin jangan sampai menurunkan semangat kerja ASN. Tapi di sisi lain, perlu ada klarifikasi yang terbuka agar tidak terjadi kesalahpahaman,” ujarnya, Jumat (10/10).
Ia juga menyoroti relasi kekuasaan yang tidak sehat antara pimpinan dan ASN, yang seolah menutup ruang kritik terhadap kebijakan.
“ASN tetap harus menjunjung profesionalisme kerja. Tapi ruang berdiskusi dan menyampaikan aspirasi tidak boleh dimatikan,” pungkas Arlan.(*/kus)
Kumpulan Artikel Tips & trik gaya hidup
Tips & trik Lifehack
tips
tips agar cepat hamil
tips diet
tips diet sehat
tips menurunkan berat badan
tips cepat hamil
tips menambah berat badan
tips agar bayi cepat gemuk dalam 1 minggu
tips agar cepat melahirkan di usia kandungan 38 minggu
tips menulis kreatif
tips menabung
tips gemukin badan
tips agar melahirkan normal lancar dan tidak sakit
tips mengecilkan perut
tips sukses pubertas
tips diet cepat
tips menurunkan tekanan darah tinggi
poster tips sukses pubertas
tips diet pemula
tips hidup sehat
tips move on
tips agar cepat tidur
tips awet muda
tips menaikkan berat badan
tips belajar efektif
tips and tricks
tips mengatasi badan lemas
tips menabung harian
tips interview kerja
prediksi tips parlay 100 win
tips tinggi
tips tidur cepat
tips agar cepat haid
tips agar cepat kontraksi asli
tips kesehatan
tips menabung 1 juta per bulan
tips menghilangkan jerawat
tips belajar bahasa inggris
tips ibu hamil 9 bulan agar persalinan lancar
tips gamis untuk orang gemuk
tips agar miss v tidak kering saat berhubungan
tips kepala sering pusing
tips gemuk
tips cepat hamil setelah haid selesai
tips kurus
tips untuk memanjakan diri
tips tinggi badan
tunjukkan tips tidur
tips cepat tidur
tips agar tidak mabuk perjalanan