Hack.AC.ID – Menjelang pergantian tahun, Indonesia memasuki fase penting untuk memulihkan kepercayaan publik di tengah ekonomi yang masih menunjukkan gejolak. Ketidakpastian global, dinamika pasar, dan transisi pemerintahan menjadi faktor yang mendorong kebutuhan akan stabilitas baru. Di tengah situasi tersebut, harapan publik terhadap arah kebijakan yang lebih konsisten dan inklusif semakin menguat.
Dalam konteks itu, Allianz Indonesia menggelar Media Workshop yang mempertemukan pengamat ekonomi dan jurnalis. Forum ini menjadi ruang diskusi mengenai bagaimana media dan industri asuransi dapat berkontribusi pada pembentukan optimisme menuju ekonomi Indonesia 2026.
Ekonom Senior INDEF, Aviliani, menilai bahwa sepanjang 2025 ketidakpastian global masih menjadi latar belakang utama pergerakan ekonomi dunia. Pemilu di 57 negara yang mencakup hampir setengah populasi dunia dan 60 persen PDB global hingga polarisasi geopolitik yang dipicu konflik Rusia-Ukraina, ketegangan Myanmar, dan rivalitas Amerika Serikat-Tiongkok, menjadi faktor yang terus membayangi.
“Pada akhirnya, kepastian ke depan justru adalah ketidakpastian itu sendiri. Karena itu, dunia usaha dan pemerintah harus lebih lincah serta memperkuat aspek governance, risk, dan compliance,” ujar Aviliani.
Meski begitu, ada sinyal positif. IMF kembali menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,2 persen pada 2025, sebelum melandai sedikit ke 3,1 persen pada 2026.
Di dalam negeri, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 bergerak fluktuatif: 4,87 persen di triwulan I, naik menjadi 5,12 persen di triwulan II, lalu melemah tipis ke 5,04 persen di triwulan III. Fluktuasi ini, kata Aviliani, mencerminkan pemulihan yang masih rentan dan sangat bergantung pada stabilitas kebijakan.
Momentum meningkatnya kepercayaan publik terhadap pemerintah sejak Oktober 2025 disebut menjadi peluang penting untuk mendorong pertumbuhan. Penempatan dana SAL dan SILPA yang mencapai Rp276 triliun serta program stimulus 8+4+5 dinilai memberi injeksi besar ke perekonomian. Sinyal positif ini juga terlihat dari 21 kali rekor all time high di IHSG.
“Pertumbuhan tidak boleh hanya berhenti sebagai angka. Pemerataan, rasa aman, dan ekspektasi publik terhadap masa depan jauh lebih menentukan,” ujar Aviliani.
Sejalan dengan dinamika ekonomi, industri asuransi juga menunjukkan ketahanan. Total aset sektor ini mencapai Rp1.181,21 triliun per September 2025, meningkat 3,39 persen dibanding tahun sebelumnya. OJK memperkuat fondasi sektor lewat beragam regulasi mulai dari peningkatan modal minimum, pemisahan unit syariah, hingga pengetatan standar pelaporan risiko.
Direktur Kepatuhan Allianz Life Indonesia, Hasinah Jusuf, mengatakan bahwa ketahanan industri tidak hanya ditentukan oleh kondisi ekonomi, tetapi juga persepsi publik. Sampai kuartal III 2025, pendapatan premi Allianz Life dan Allianz Syariah mencapai Rp15,2 triliun, didukung edukasi keuangan yang menjangkau lebih dari satu juta penerima manfaat.
Tahun 2026 disebut sebagai fase penting bagi industri asuransi dengan penerapan skema co-payment, pembentukan Dewan Penasihat Medis (DPM), penguatan underwriting berbasis risiko, serta percepatan digitalisasi layanan. Kewajiban pemenuhan ekuitas minimum menjadi langkah strategis memperkuat industri, sementara kehadiran Lembaga Penjaminan Polis pada 2028 dinilai dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat.
“Sinergi antara pemerintah, industri, dan media sangat penting untuk membangun narasi positif mengenai peran asuransi sebagai fondasi ketahanan finansial keluarga,” ujar Hasinah.
Allianz Indonesia juga kembali menggelar Allianz Journalist Writing Competition yang tahun ini menjaring lebih dari 3.000 artikel tentang asuransi dari berbagai platform media. Kompetisi ini menjadi bentuk apresiasi sekaligus upaya memperkuat literasi keuangan.
Peran media menjadi salah satu topik sentral workshop. Direktur Pemberitaan Perum LKBN Antara, Irfan Junaidi, menilai tantangan media arus utama semakin berat di era post-truth. Masifnya disinformasi, dominasi opini, hingga tekanan bisnis akibat penurunan belanja iklan menjadi faktor yang menuntut media tetap menjaga akurasi dan empati dalam pemberitaan.
“Media bukan hanya penyampai fakta, tetapi penyeimbang agar publik tidak terseret arus disinformasi. Kepercayaan publik adalah fondasi pemulihan ekonomi,” ujar Irfan.
Sementara itu, Photojournalist dan Editor Jawapos.com, Hendra Eka, menekankan pentingnya visual sebagai alat pembangun persepsi masyarakat. Foto jurnalistik yang autentik, menurutnya, mampu merekam realitas sosial dan menumbuhkan harapan.
“Visual yang kuat dapat menunjukkan bagaimana masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha bergerak bersama. Itu penting untuk membangun optimisme menuju 2026,” ujar Hendra. (pra)
Kumpulan Artikel Tips & trik gaya hidup
Tips & trik Lifehack
tips
tips agar cepat hamil
tips diet
tips diet sehat
tips menurunkan berat badan
tips cepat hamil
tips menambah berat badan
tips agar bayi cepat gemuk dalam 1 minggu
tips agar cepat melahirkan di usia kandungan 38 minggu
tips menulis kreatif
tips menabung
tips gemukin badan
tips agar melahirkan normal lancar dan tidak sakit
tips mengecilkan perut
tips sukses pubertas
tips diet cepat
tips menurunkan tekanan darah tinggi
poster tips sukses pubertas
tips diet pemula
tips hidup sehat
tips move on
tips agar cepat tidur
tips awet muda
tips menaikkan berat badan
tips belajar efektif
tips and tricks
tips mengatasi badan lemas
tips menabung harian
tips interview kerja
prediksi tips parlay 100 win
tips tinggi
tips tidur cepat
tips agar cepat haid
tips agar cepat kontraksi asli
tips kesehatan
tips menabung 1 juta per bulan
tips menghilangkan jerawat
tips belajar bahasa inggris
tips ibu hamil 9 bulan agar persalinan lancar
tips gamis untuk orang gemuk
tips agar miss v tidak kering saat berhubungan
tips kepala sering pusing
tips gemuk
tips cepat hamil setelah haid selesai
tips kurus
tips untuk memanjakan diri
tips tinggi badan
tunjukkan tips tidur
tips cepat tidur
tips agar tidak mabuk perjalanan