Nyaris Seribu Orang Meninggal Akibat Banjir Sumatera, WALHI Sebut Pemerintah dan Korporasi Perusak Lingkungan Harus Bertanggung Jawab – Hack.AC.ID

screenshot_20251207_064515_whatsapp-6301621-7890903-jpg

RADARBANDUNG.ID, SUMBAR – Data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban jiwa pasca bencana di Sumatera sampai hari ini sudah menyentuh angka 916 jiwa.

screenshot_20251207_064634_whatsapp-7094234

Kondisi Desa Garoga, Batang Toru, Tapanuli Selatan luluh lantah pasca bencana alam banjir bandang dan tanah longsor pada (2/12/2025). Sementara foto atas, petugas berjibaku evakuasi korban. Foto-foto: Ahmad Jiddan/Gerakan Anak Negeri

Menurut Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) yang harus bertanggung jawab atas nyawa korban bencana sebanyak itu adalah pemerintah dan korporasi perusak lingkungan.

Direktur WALHI Sumatera Barat (Sumbar) Wengki Purwanto menegaskan hal itu saat diwawancarai pada Sabtu malam (6/12/2025).

Dia menyampaikan bahwa selama ini eksploitasi kawasan hutan di Sumatera seolah dibiarkan.

Baik oleh perusahaan atau korporasi yang memiliki izin maupun tanpa izin.

Akibatnya terjadi bencana ekologis hingga banyak nyawa tidak berdosa melayang.

”Pandangan WALHI memang yang paling bertanggung jawab atas bencana ekologis sini adalah pemerintah, termasuk di dalamnya itu pelaku usaha. Pemerintah yang kami maksud adalah pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Tidak hanya di level eksekutif, termasuk juga legislatif. Mulai dari daerah sampai ke pusat, termasuk juga seluruh korporasi yang terhubung dengan semua kejadian ini,” ujarnya.

Menurut Wengki pemerintah sudah gagal melakukan tugas-tugasnya.

Baik dalam pengawasan terhadap korporasi legal dan ilegal yang merusak lingkungan maupun pelaksanaan tugas untuk melindungi masyarakat dari ancaman bencana.

Sebab, dia menyatakan, antisipasi dan mitigasi terhadap bencana ekologis tidak dilakukan oleh pemerintah.

Padahal, Wengki menyatakan bahwa bencana yang paling banyak terjadi di Sumatera adalah bencana ekologis seperti banjir dan longsor.

Buruknya, saat bencana ekologis terjadi dan menyebabkan kerusakan sangat dahsyat, yang muncul bukan pertanggungjawaban.

Melainkan upaya cuci tangan dari satu pihak kepada pihak lainnya.

”Yang berkembang akhir-akhir ini kan seperti mereka berebut cuci tangan, bukan berebut mengambil tanggung jawab atas semua yang terjadi. Ada kegagalan pemerintah termasuk juga gagal memahami bencana ini. Seakan mereka berbalas pantun, satu menyebut tidak ada lagi izin yang kemudian di daerah menyebut ini izin tetap diberikan begitu,” sesalnya.

Bencana ekologis di Sumatera, kata Wengki, merupakan akumulasi krisis ekologis yang terjadi tidak satu atau dua hari belakangan, melainkan sudah terjadi bertahun-tahun lamanya.

Termasuk di wilayah Agam.

Jumlah korban jiwa sebanyak 172 orang yang tercatat sampai hari ini di kabupaten tersebut muncul akibat kerusakan dahsyat.

”Agam sendiri sebenarnya dalam catatan WALHI itu Agam termasuk salah satu kabupaten yang kawasan hutannya di era sekitar tahun 80-an, 90-an sampai 2000-an itu juga dihabisi untuk perkebunan monokultur kelapa sawit,” imbuhnya.

Belakangan, WALHI melihat terjadi alih fungsi lahan di Agam yang sangat masif. Khususnya di kawasan hulu.

Alih fungsi itu, kata Wengki dimulai dengan pengambilan kayu-kayu yang artinya terjadi penembangan pohon dalam jumlah besar.

Kondisi itu semakin buruk karena Pemerintah Daerah Sumbar gagal memberikan perlindungan kepada masyarakat agam.

Terpisah, Wakil Ketua Komisi IV DPR Alex Indra Lukman menyatakan bahwa Kementerian Kehutanan (Kemenhut) adalah salah satu pihak yang harus bertanggung jawab dengan melakukan pemulihan di kawasan hutan Sumatera yang sudah rusak.

Dia menekankan bahwa rehabilitas pasca bencana tidak boleh hanya berorientasi pada perbaikan infrastruktur, melainkan juga harus dilakukan pada kawasan hutan.

”Hutan juga harus direhabilitasi. Jangan sampai infrastruktur yang rusak direhabilitasi, direkonstruksi (tapi kawasan hutan dibiarkan),” tegasnya.

Alex menyatakan bahwa jika pemerintah menyatakan awal mula bencana dahsyat yang terjadi di Sumatera adalah Siklon Tropis Senyar, maka bukan tidak mungkin siklon tersebut kembali datang.

Sehingga harus dipastikan, saat itu terjadi masyarakat dan lingkungannya sudah siap.

Apabila kawasan hutan dibiarkan rusak tanpa rehabilitasi, maka bencana dahsyat serupa yang terjadi hari ini bisa terulang lagi.

”Untuk satu nyawa, itu tidak pernah bisa kita nilai. Apalagi, dengan sedemikian banyaknya (korban) yang sekarang,” ujarnya.  (jpc)

 

 

 

Live Update

Kumpulan Artikel Tips & trik gaya hidup

Tips & trik Lifehack
tips
tips agar cepat hamil
tips diet
tips diet sehat
tips menurunkan berat badan
tips cepat hamil
tips menambah berat badan
tips agar bayi cepat gemuk dalam 1 minggu
tips agar cepat melahirkan di usia kandungan 38 minggu
tips menulis kreatif
tips menabung
tips gemukin badan
tips agar melahirkan normal lancar dan tidak sakit
tips mengecilkan perut
tips sukses pubertas
tips diet cepat
tips menurunkan tekanan darah tinggi
poster tips sukses pubertas
tips diet pemula
tips hidup sehat
tips move on
tips agar cepat tidur
tips awet muda
tips menaikkan berat badan
tips belajar efektif
tips and tricks
tips mengatasi badan lemas
tips menabung harian
tips interview kerja
prediksi tips parlay 100 win
tips tinggi
tips tidur cepat
tips agar cepat haid
tips agar cepat kontraksi asli
tips kesehatan
tips menabung 1 juta per bulan
tips menghilangkan jerawat
tips belajar bahasa inggris
tips ibu hamil 9 bulan agar persalinan lancar
tips gamis untuk orang gemuk
tips agar miss v tidak kering saat berhubungan
tips kepala sering pusing
tips gemuk
tips cepat hamil setelah haid selesai
tips kurus
tips untuk memanjakan diri
tips tinggi badan
tunjukkan tips tidur
tips cepat tidur
tips agar tidak mabuk perjalanan

You May Also Like

About the Author: Hack Adm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *