RADARBANDUNG.ID, SOREANG — Dua bulan sejak kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang memperbolehkan satu kelas diisi hingga 50 siswa diterapkan, sejumlah guru di Kabupaten Bandung mulai menyampaikan keluhan.
Padatnya jumlah siswa dinilai menyulitkan proses belajar mengajar dan berdampak pada kesehatan serta konsentrasi murid.
Para guru menyebut, efektivitas pembelajaran menurun karena perhatian siswa mudah terpecah. Guru juga harus menghabiskan lebih banyak waktu untuk menertibkan kelas dibandingkan mengajar.
“Awalnya kami mencoba beradaptasi, tapi sekarang terasa berat sekali. Dengan 50 siswa dalam satu ruangan, tenaga dan perhatian banyak tersita untuk mengatur kelas,” ujar Bu Nani (nama samaran), guru Bahasa Indonesia di salah satu SD negeri di Baleendah, Senin (20/10).
Ia menambahkan, kondisi fisik ruang kelas turut memperparah situasi. Ventilasi minim, meja berhimpitan, dan suhu cepat meningkat membuat anak-anak mudah lelah dan kesulitan berkonsentrasi.
Keluhan serupa disampaikan Pak Rahmat (nama samaran), guru Matematika di Kecamatan Soreang. Ia mengaku kesulitan memantau perkembangan akademik setiap siswa secara menyeluruh.
“Mengoreksi tugas satu per satu jadi terhambat. Siswa yang tertinggal tidak sempat saya dampingi secara khusus,” katanya.
Menurutnya, rombongan belajar (rombel) berisi 50 siswa berpotensi menurunkan kualitas pendidikan dalam jangka panjang. “Kalau kondisi ini dibiarkan, motivasi belajar anak bisa turun. Guru pun kewalahan. Saya harap ada evaluasi dari pemerintah,” ujarnya.
Dari sisi kesehatan, praktisi kesehatan masyarakat dr. Ngabila Salama memperingatkan bahwa kelas dengan jumlah siswa berlebih bisa memicu gangguan penglihatan pada anak.
“Perkembangan penglihatan masih sangat penting di usia sekolah dasar. Jika duduk terlalu jauh dari papan tulis setiap hari, risiko rabun jauh atau miopia akan meningkat,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pencahayaan dan tekanan visual di kelas yang padat. “Anak yang terus-menerus memicingkan mata akan cepat mengalami kelelahan visual (visual fatigue),” tambahnya.
Selain itu, rasio guru dan siswa yang tidak seimbang disebut dapat mengurangi perhatian personal terhadap murid. “Guru akhirnya fokus menuntaskan materi, bukan memastikan semua anak benar-benar memahami pelajaran,” ujarnya.
Sejumlah pemerhati pendidikan mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Barat meninjau ulang kebijakan rombel 50 siswa. Mereka menilai, setelah dua bulan diterapkan, dampak negatif mulai dirasakan, mulai dari gangguan kesehatan hingga penurunan motivasi belajar di kalangan siswa sekolah dasar.(*/kus)
Kumpulan Artikel Tips & trik gaya hidup
Tips & trik Lifehack
tips
tips agar cepat hamil
tips diet
tips diet sehat
tips menurunkan berat badan
tips cepat hamil
tips menambah berat badan
tips agar bayi cepat gemuk dalam 1 minggu
tips agar cepat melahirkan di usia kandungan 38 minggu
tips menulis kreatif
tips menabung
tips gemukin badan
tips agar melahirkan normal lancar dan tidak sakit
tips mengecilkan perut
tips sukses pubertas
tips diet cepat
tips menurunkan tekanan darah tinggi
poster tips sukses pubertas
tips diet pemula
tips hidup sehat
tips move on
tips agar cepat tidur
tips awet muda
tips menaikkan berat badan
tips belajar efektif
tips and tricks
tips mengatasi badan lemas
tips menabung harian
tips interview kerja
prediksi tips parlay 100 win
tips tinggi
tips tidur cepat
tips agar cepat haid
tips agar cepat kontraksi asli
tips kesehatan
tips menabung 1 juta per bulan
tips menghilangkan jerawat
tips belajar bahasa inggris
tips ibu hamil 9 bulan agar persalinan lancar
tips gamis untuk orang gemuk
tips agar miss v tidak kering saat berhubungan
tips kepala sering pusing
tips gemuk
tips cepat hamil setelah haid selesai
tips kurus
tips untuk memanjakan diri
tips tinggi badan
tunjukkan tips tidur
tips cepat tidur
tips agar tidak mabuk perjalanan