RADARBANDUNG.ID, KOTA BANDUNG – Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus meninjau Dapur Sentra Pemberian Pangan Gizi (SPPG) di kawasan Gegerkalong, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung. Kunjungan ini dilakukan untuk memastikan kesiapan fasilitas, higienitas dapur, dan standar keamanan pangan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini menjangkau jutaan anak di seluruh Indonesia.
“Tujuan utama kami adalah memastikan setiap tahap produksi berjalan sesuai standar keamanan pangan. Mulai dari pencucian wadah makanan, penyimpanan bahan baku, hingga ketepatan waktu penyajian. Semua harus higienis agar terhindar dari risiko keracunan,” ujar Benjamin, Selasa (21/10/2025).
Menurut data Kementerian Kesehatan, dari total 514 kabupaten/kota di Indonesia, hanya 112 yang melaporkan kasus keracunan pangan.
“Artinya sekitar 400 daerah tidak mengalami insiden. Dari 1,4 miliar piring makanan yang disalurkan, hanya 14.341 anak yang mengalami keracunan. Persentasenya sangat kecil,” jelas Benjamin.
Benjamin menyebut dalam dua bulan terakhir jumlah dapur SPPG meningkat drastis dari 2.000 menjadi 9.000 unit. Meski perkembangan ini tergolong pesat, ia mengakui masih ada kendala di lapangan.
“Wajar kalau di awal sempat ada gangguan. Saya tanya ke petugas, kaget nggak cuci 3.000 piring sekaligus? Ya jelas kaget. Tapi lama-lama mereka terbiasa,” ujarnya.
Sebagian besar tantangan muncul karena banyak operator SPPG berasal dari lembaga sosial yang belum memiliki pengalaman di bidang pengolahan makanan.
“Semangat mereka luar biasa, tapi jam terbang masih terbatas. Karena itu, pelatihan dan pendampingan terus kami lakukan,” ucapnya.
Hingga kini, program MBG telah menjangkau 36,7 juta anak di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, hanya 145 anak dilaporkan mengalami gangguan kesehatan, 13 di Kabupaten Bandung dan 142 di Maluku.
“Angka itu sangat kecil. Kami optimistis bisa mencapai target zero accident,” tegasnya.
Benjamin memuji sistem pencatatan alergi anak yang sudah diterapkan di Dapur SPPG Gegerkalong.
“Sistem ini luar biasa karena memastikan anak-anak dengan alergi tertentu tetap mendapat makanan bergizi tanpa risiko. Ini bukti komitmen tenaga gizi di sini,” ujarnya.
Untuk memperkuat keamanan pangan, Kementerian Kesehatan juga berencana menambah tenaga ahli sanitasi lingkungan di setiap dapur SPPG.
Namun, Benjamin mengakui ketersediaan sumber daya manusia masih menjadi tantangan.
“Bidang ini tergolong baru, jadi mencari tenaga ahli tidak mudah,” katanya.
Program MBG di wilayah Bandung sendiri telah menjangkau 62 persen siswa di Kota Bandung dan sekitar 500 ribu anak atau 35 persen di Kabupaten Bandung.
“Kami tidak ingin terburu-buru. Implementasi harus realistis agar tidak menimbulkan risiko,” ujarnya.
Benjamin menegaskan sertifikasi menjadi syarat mutlak bagi dapur SPPG.
“Kalau belum lolos verifikasi dari Dinas Kesehatan, belum boleh beroperasi. Saat ini sudah ada 428 dapur bersertifikat dan 2.500 lainnya masih menunggu hasil laboratorium. Minggu depan kemungkinan bertambah menjadi 600-700 unit,” ungkapnya.
Benjamin juga meminta masyarakat bersabar bila sekolah di wilayahnya belum menerima program MBG.
“Ini bukan karena kekurangan anggaran. Justru ada dana yang dikembalikan karena pelaksanaan harus sesuai kesiapan. Menyediakan makanan bergizi untuk ribuan anak itu tidak sederhana,” tambahnya.
Kepala Dapur SPPG Gegerkalong, Muhammad Rizki mengatakan pihaknya kini menyalurkan lebih dari 3.000 porsi makanan setiap hari untuk siswa PAUD hingga SMA di 26 sekolah sekitar Bandung.
“Distribusi kami lakukan dua kali, pagi dan siang. Kami pastikan makanan sampai dalam kondisi hangat dan aman dikonsumsi,” ujar Rizki.
Proses pengolahan makanan dimulai sejak dini hari dengan bahan baku lokal yang diperiksa langsung oleh ahli gizi. Sebanyak 50 warga sekitar dilibatkan dalam kegiatan dapur, mayoritas ibu rumah tangga yang mendapat pelatihan pengolahan makanan sehat dan kebersihan.
“Koki utama harus bersertifikat, tapi untuk pekerjaan pendukung seperti pencucian wadah atau pengemasan, kami libatkan warga sekitar agar ada pemberdayaan ekonomi,” jelas Rizki.
Menu makanan disusun oleh tim ahli gizi berdasarkan kebutuhan nutrisi anak usia sekolah, namun tetap memperhatikan selera anak-anak agar tidak bosan.
“Kami berupaya agar makanan bergizi tetap terasa lezat dan disukai,” tambah Rizki.
Ke depan, pemerintah berencana memperluas program MBG tidak hanya bagi pelajar, tetapi juga untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
“Kami sedang menyiapkan tambahan 500 porsi untuk tahap ketiga agar cakupan penerima manfaat semakin luas,” ujar Rizki.(dsn)
Kumpulan Artikel Tips & trik gaya hidup
Tips & trik Lifehack
tips
tips agar cepat hamil
tips diet
tips diet sehat
tips menurunkan berat badan
tips cepat hamil
tips menambah berat badan
tips agar bayi cepat gemuk dalam 1 minggu
tips agar cepat melahirkan di usia kandungan 38 minggu
tips menulis kreatif
tips menabung
tips gemukin badan
tips agar melahirkan normal lancar dan tidak sakit
tips mengecilkan perut
tips sukses pubertas
tips diet cepat
tips menurunkan tekanan darah tinggi
poster tips sukses pubertas
tips diet pemula
tips hidup sehat
tips move on
tips agar cepat tidur
tips awet muda
tips menaikkan berat badan
tips belajar efektif
tips and tricks
tips mengatasi badan lemas
tips menabung harian
tips interview kerja
prediksi tips parlay 100 win
tips tinggi
tips tidur cepat
tips agar cepat haid
tips agar cepat kontraksi asli
tips kesehatan
tips menabung 1 juta per bulan
tips menghilangkan jerawat
tips belajar bahasa inggris
tips ibu hamil 9 bulan agar persalinan lancar
tips gamis untuk orang gemuk
tips agar miss v tidak kering saat berhubungan
tips kepala sering pusing
tips gemuk
tips cepat hamil setelah haid selesai
tips kurus
tips untuk memanjakan diri
tips tinggi badan
tunjukkan tips tidur
tips cepat tidur
tips agar tidak mabuk perjalanan