RADARBANDUNG.ID, SIDOARJO – M. Zainal Ali Abidin sejam pingsan di bawah reruntuhan dan baru siuman saat tim penyelamat mengangkatnya.
Orang tua santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny menunggu kabar anaknya usai musala ambruk. Sementara foto atas, Syehlendra Haical Raka dievakuasi ke IGD RSUD RT Notopuro. Foto : Ahmad Reza/Jawa Pos
Syehlendra Haical Raka tiga hari tertimbun dan tak mengalami patah tulang atau luka berat lainnya.
Laporan :AHMAD REZATRIYA, Sidoarjo
BAGIAN tulang ekor M. Zainal Ali Abidin masih sakit. Begitu pula kepalanya yang mengalami gegar otak ringan.
Kemarin (1/10/225), santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny itu masih terbaring di kamar rawat inap Mawar Kuning RSUD RT Notopuro Sidoarjo, Jawa Timur. Sang ibu, Siti Fatimah, mendampinginya di sisi tempatnya berbaring.
“Alhamdulillah, Ali ditemukan selamat. Ini anak pertama saya, sebenarnya adiknya juga mondok di sana, cuma hari itu dia di rumah karena sakit perut,” kata wanita 41 tahun itu kepada Jawa Pos.
Hari itu yang dimaksud Siti adalah Senin (29/9/2025), sekitar pukul 14.30, saat Ali bersama para santri lain salat Asar berjamaah di musala ponpes. Musala ponpes yang berlokasi di Buduran, Sidoarjo, tersebut berlantai tiga, dengan dua di antaranya telah digunakan untuk aktivitas. Lantai tiga tengah dalam penyelesaian.
Salat digelar di lantai 1.
“Posisi saya paling kanan (utara) dari bangunan,” kata Ali yang duduk di kelas XI MAN Al-Khoziny.
Ketika rukuk di rakaat kedua, remaja 17 tahun itu mendengar suara semacam batu jatuh, dua–tiga kali.
Sejumlah temannya yang ikut berjamaah spontan kabur. “Cuma saya nggak merasa gimana gitu karena saya pikir hanya runtuhan molen cor yang jatuh,” paparnya.
Ali salah menduga.
Sekejap kemudian atap runtuh dan menimpanya.
“Badan saya kejepit dan setelah itu tak ingat apa-apa lagi,” katanya.
Sadar saat Dievakuasi
Sekitar sejam lamanya Ali tertimbun di bawah reruntuhan dalam kondisi pingsan.
Dia baru sadar bahwa dirinya habis tertimpa reruntuhan saat diangkat tim penyelamat.
Itu pun dia masih kesulitan membuka mata.
“Saya tidak bisa buka mata, tapi telinga saya dengar suara teman-teman saya,” kata warga Peneleh, Surabaya, itu.
Tim penyelamat segera melarikannya ke ambulans.
“Saya hanya bisa beristighfar,” katanya.
Sampai pukul 17.00 kemarin (1/10/2025), sudah 102 korban berhasil dievakuasi dari balik puing musala.
Tapi, empat di antaranya kemudian meninggal.
Belum semua santri yang tertimbun terevakuasi.
Termasuk Al Fatih Cakra, anak Abdul Hanan, warga Bangkalan.
“Saya sudah sejak Senin (29/9/2025) malam dari Bangkalan ke sini, menunggu kabar anak saya,” katanya.
Ada pula Sholehudin, warga Bangkalan lainnya, yang juga sama cemasnya menunggu nasib putranya, Suwaifi.
“Saya bolak-balik baca yang sudah dievakuasi, tapi tidak ada anak saya,” kata pria 46 tahun itu.
“Kenapa nggak langsung pakai alat berat, saya sudah terima apa pun kondisi anak saya, biar semua keluarga yang di sini lega,” lanjutnya.
Ali sendiri sudah sejak SMP bersekolah di Ponpes Al-Khoziny.
“Sebenarnya (Senin) malam itu saya rencananya mau mengunjungi anak saya, tapi ternyata ada kejadian itu, dan saya datang ke lokasi hanya bisa berdoa agar dia selamat,” ujarnya dengan nada getir.
Meski masih harus berbaring di ruang perawatan, kondisi Ali terus membaik.
Siti mengapresiasi gerak cepat Bagus Sulistiono, dokter spesialis bedah saraf di RSUD RT Notopuro yang menangani sang buah hati.
“Alhamdulillah, setiap hari dicek kondisinya,” katanya.
Lemas, tapi Masih Bicara
Bendungan di kedua mata Abdul Hawi ambrol kala sang anak, Syehlendra Haical Raka, berhasil dievakuasi dengan selamat kemarin setelah tiga hari tertimbun di bawah reruntuhan.
“Alhamdulillah, ini doa yang sebelumnya kami panjatkan, di rumah dan di posko informasi,” kata pria asal Probolinggo, Jawa Timur, itu sembari terus mengusap matanya di IGD RSUD RT Notopuro.
Haical dan santri lainnya yang juga tertimbun, Yusuf, sebelumnya terekam berkomunikasi dengan tim penyelamat saat masih di bawah puing. Video tercakapan tersebut tersebar ke berbagai platform.
Kemarin, kata Hawi, sang anak yang berusia 14 tahun itu juga masih bisa berbicara meski lemas. Kabar baik lainnya, dia tak mengalami patah tulang atau luka parah lain.
“Mudah-mudahan, Haical bisa segera pulih dan pulang,” ujar Hawi sembari terus menangis bahagia. (*/ttg)
Live Update
Kumpulan Artikel Tips & trik gaya hidup
Tips & trik Lifehack
tips
tips agar cepat hamil
tips diet
tips diet sehat
tips menurunkan berat badan
tips cepat hamil
tips menambah berat badan
tips agar bayi cepat gemuk dalam 1 minggu
tips agar cepat melahirkan di usia kandungan 38 minggu
tips menulis kreatif
tips menabung
tips gemukin badan
tips agar melahirkan normal lancar dan tidak sakit
tips mengecilkan perut
tips sukses pubertas
tips diet cepat
tips menurunkan tekanan darah tinggi
poster tips sukses pubertas
tips diet pemula
tips hidup sehat
tips move on
tips agar cepat tidur
tips awet muda
tips menaikkan berat badan
tips belajar efektif
tips and tricks
tips mengatasi badan lemas
tips menabung harian
tips interview kerja
prediksi tips parlay 100 win
tips tinggi
tips tidur cepat
tips agar cepat haid
tips agar cepat kontraksi asli
tips kesehatan
tips menabung 1 juta per bulan
tips menghilangkan jerawat
tips belajar bahasa inggris
tips ibu hamil 9 bulan agar persalinan lancar
tips gamis untuk orang gemuk
tips agar miss v tidak kering saat berhubungan
tips kepala sering pusing
tips gemuk
tips cepat hamil setelah haid selesai
tips kurus
tips untuk memanjakan diri
tips tinggi badan
tunjukkan tips tidur
tips cepat tidur
tips agar tidak mabuk perjalanan